Audit SI/TI
menggunakan ITIL Framework
Audit sistem informasi
merupakan salah satu metode penilaian terhadap suatu objek,dalam hal ini adalah
sistem informasi. Tujian audit sistem informasi telah menjamin integitas data,
mencapai tujuan-tujuan suatu organisasi secara efektif, dan telah menggunakan
sumber daya secara efisien. Audit sistem informasi dilakukan untuk mendapatkan
temuan-temuan yang pada akhirnya akan diberikan pula solusi atau
rekomendasinya. Namun pada dasarnya audit dapat dilakukan di organisasi manapun
dengan proses bisnis apapun sesuai dengan kebutuhan organisasi.
Dalam bidang audit
sistem informasi banyak framework yang dapat digunakan, diantaranya, COBIT,
TOGAF, dan ITIL. Framework tersebut berfingsi untuk membantu dalam meningkatkan
efisiensi dan efektifitas dalam proses bisnis suatu organisasi dengan hasilnya
yang berupa temuan-temuan. Dari temuan-temuan hasil audit tersebut pada
akhirnya juga harus diberikan rekomendasinya. Framework itil merupakan salah
satu framework yang banyak digunakan selama ini.
ITIL (Information Technology Infrastructure Library)
telah mengalami beberapa pembaharuan, pembaharuan framework ITIL yang terakhir
adalah ITIL versi 3. Didalam ITIL versi 3 ini terdapat 5 domain, yaitu :
1.
service strategy,
2.
service design,
3.
service transition,
4.
service operation serta,
5.
continual service improvement.
Kelima domain tersebut
memiliki subdomainnya sendiri. Seperti domain service operation yang memiliki
sub pembahasan atau subdomain, antara lain service desk, incident management,
problem management, event management, request fulfilment, dan access
management.
Siklus Layanan ITIL
Kelima
bagian ITIL yang seperti tersebut di atas biasanya disebut juga sebagai bagian
dari sebuah siklus. Dikenal pula dengan sebutan Sikuls Layanan ITIL. Secara
singkat, masing-masing bagian dijelaskan sebagai berikut.
Service Strategy
Inti dari ITIL Service Lifecycle adalah
Service Strategy. Service Strategy memberikan panduan kepada pengimplementasi
ITSM pada bagaimana memandang konsep ITSM bukan hanya sebagai sebuah kemampuan
organisasi (dalam memberikan, mengelola serta mengoperasikan layanan TI), tapi
juga sebagai sebuah aset strategis perusahaan. Panduan ini disajikan dalam
bentuk prinsip-prinsip dasar dari konsep ITSM, acuan-acuan serta proses-proses
inti yang beroperasi di keseluruhan tahapan ITIL Service Lifecycle.
Topik-topik yang
dibahas dalam tahapan lifecycle ini mencakup pembentukan pasar untuk menjual
layanan, tipe-tipe dan karakteristik penyedia layanan internal maupun
eksternal, aset-aset layanan, konsep portofolio layanan serta strategi
implementasi keseluruhan ITIL Service Lifecycle. Proses-proses yang dicakup
dalam Service Strategy, di samping topik-topik di atas adalah:
- Service Portfolio Management
- Financial Management
- Demand Management
Bagi organisasi TI yang
baru akan mengimplementasikan ITIL, Service Strategy digunakan sebagai panduan
untuk menentukan tujuan/sasaran serta ekspektasi nilai kinerja dalam mengelola
layanan TI serta untuk mengidentifikasi, memilih serta memprioritaskan berbagai
rencana perbaikan operasional maupun organisasional di dalam organisasi TI.
Bagi organisasi TI yang
saat ini telah mengimplementasikan ITIL, Service Strategy digunakan sebagai
panduan untuk melakukan review strategis bagi semua proses dan perangkat
(roles, responsibilities, teknologi pendukung, dll) ITSM di organisasinya,
serta untuk meningkatkan kapabilitas dari semua proses serta perangkat ITSM
tersebut.
Service Design
Agar
layanan TI dapat memberikan manfaat kepada pihak bisnis, layanan-layanan TI
tersebut harus terlebih dahulu di desain dengan acuan tujuan bisnis dari
pelanggan. Service Design memberikan panduan kepada organisasi TI untuk dapat
secara sistematis dan best practice mendesain dan membangun layanan TI maupun
implementasi ITSM itu sendiri. Service Design berisi prinsip-prinsip dan
metode-metode desain untuk mengkonversi tujuan-tujuan strategis organisasi TI
dan bisnis menjadi portofolio/koleksi layanan TI serta aset-aset layanan,
seperti server, storage dan sebagainya.
Ruang
lingkup Service Design tidak melulu hanya untuk mendesain layanan TI baru,
namun juga proses-proses perubahan maupun peningkatan kualitas layanan,
kontinyuitas layanan maupun kinerja dari layanan.
Proses-proses yang
dicakup dalam Service Design yaitu:
- Service Catalog Management
- Service Level Management
- Supplier Management
- Capacity Management
- Availability Management
- IT Service Continuity Management
- Information Security Management
Service Transition
Service
Transition menyediakan panduan kepada organisasi TI untuk dapat mengembangkan
serta kemampuan untuk mengubah hasil desain layanan TI baik yang baru maupun
layanan TI yang diubah spesifikasinya ke dalam lingkungan operasional. Tahapan
lifecycle ini memberikan gambaran bagaimana sebuah kebutuhan yang didefinisikan
dalam Service Strategy kemudian dibentuk dalam Service Design untuk selanjutnya
secara efektif direalisasikan dalam Service Operation.
Proses-proses yang
dicakup dalam Service Transition yaitu:
- Transition Planning and Support
- Change Management
- Service Asset & Configuration
Management
- Release & Deployment Management
- Service Validation
- Evaluation
- Knowledge Management
Service Operation
Service
Operation merupakan tahapan lifecycle yang mencakup semua kegiatan operasional
harian pengelolaan layanan-layanan TI. Di dalamnya terdapat berbagai panduan
pada bagaimana mengelola layanan TI secara efisien dan efektif serta menjamin
tingkat kinerja yang telah diperjanjikan dengan pelanggan sebelumnya.
Panduan-panduan ini mencakup bagaiman menjaga kestabilan operasional layanan TI
serta pengelolaan perubahan desain, skala, ruang lingkup serta target kinerja
layanan TI. Proses-proses yang dicakup dalam Service Transition yaitu:
- Event Management
- Incident Management
- Problem Management
- Request Fulfillment
- Access Management
Continual Service Improvement
Continual Service
Improvement (CSI) memberikan panduan penting dalam menyusun serta memelihara
kualitas layanan dari proses desain, transisi dan pengoperasiannya. CSI
mengkombinasikan berbagai prinsip dan metode dari manajemen kualitas, salah satunya
adalah Plan-Do-Check-Act (PDCA) atau yang dikenal sebagi Deming Quality Cycle
Dalam audit sistem
informasi ada beberapa tahapan yang dilakukan, yaitu:
1.
Tahap pemeriksaanpendahuluan,
2.
Tahap pemeriksaan rinci,
3.
Tahap pengujian kesesuaian,
4.
Tahap pengujian kebenaran bukti, dan,
5.
Tahap penilaian secara umum atau hasil
pengujian.





0 komentar:
Posting Komentar